MUHAMMAD THOLHAH AL-FAYYAD : ASAL MUASAL TASAWUF DALAM ISLAM MUHAMMAD THOLHAH AL-FAYYAD : ASAL MUASAL TASAWUF DALAM ISLAM - SUARA HARIAN OTO BEMO BERODA TIGA
Suara Harian Oto Bemo Beroda Tiga

Komunikasi, Media Ilmu & Pengetahuan Umum Blogging

Langsung ke konten utama

"OTO BEMO.. OTO BEMO.. BERODA TIGA .. TEMPAT BERHENTI.. DITENGAH TENGAH KOTA..PANGGIL NONA..PANGGIL NONA..NAIK KERETA..NONA BILANG..TIDAK PUNYA UANG.. JALAN KAKI SAJA"

MUHAMMAD THOLHAH AL-FAYYAD : ASAL MUASAL TASAWUF DALAM ISLAM

Ilustrasi Gambar

Ajaran sufi dan tasawuf adalah ajaran untuk mengikuti jejak para ulama salaf yang bersumber dari ajaran para shahabat dan tabi’in. 

Sufi dan tasawuf adalah ungkapan yang sering kita dengar di kalangan masyarakat. Ramainya arus perkembangan thariqah di indonesia menjadi pendongkrak ramainya kajian tasawuf belakangan ini. Kondisi ekonomi dan sosial yang tak menentu membuat manusia rindu akan kedamaian dan kedekatan dengan Allah. Dan pada akhirnya menyusuri jalan sufi adalah solusi kegalauan hati kita bersama yang telah lama terpenjara oleh hawa nafsu.   

Sebuah pertanyaan muncul, bagaimanakah sejarah awal ditemukannya istilah sufi dan tasawuf? Untuk menjawab hal ini, kiranya kita harus meneliti berbagai manuskrip sejarah Islam. Menurut Dr. Muhammad Ahmad Salim dalam kitab Quthuf min Basathin at-Tasawuf, ada 3 pendapat mengenai asal-usul istilah tasawuf dalam Islam.   

Pertama, menurut as-Siraj ath-Thusi (w. 378 H) istilah sufi dan tasawuf sudah dikenal sejak zaman jahiliah dan zaman awal datangnya Islam. Sirajuddin at-Thusi dalam karyanya yang berjudul al-Luma’ mengatakan, “Menurutku pendapat yang unggul adalah istilah sufi sudah dikenal sejak abad pertama Islam”. Beliau mengambil dalil dari ucapan al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) yang berguru kepada para sahabat Nabi, “Aku melihat seorang sufi sedang tawaf. Aku berikan dia hadiah, anehnya dia menolak seraya mengatakan ‘Aku masih memiliki uang empat daniq (daniq diambilkan dari bahasa Persia yang bermakna seperenam dirham perak)’.” Menurut as-Siraj ath-Thusi, awal mulanya istilah sufi disematkan kepada orang-orang yang memiliki kemuliaan serta suka berbuat baik kepada sesama.  Pendapat as-Siraj ath-Thusi juga didukung oleh Sufyan ats-Tsauri (w. 161 H) yang sependapat dengannya. Sufyan ats-Tsauri menukil ucapan Muhammad bin Ishaq bin Yasar (w. 151 H), “Sebelum datangnya Islam, Makkah pernah sangat sepi dari peziarah, tidak ada satu pun manusia bertawaf di Masjidil Haram. Hingga suatu ketika datanglah seorang laki-laki sufi yang bertawaf di Masjidil Haram dan kemudian meninggalkan kota Makkah”. Menurut Sufyan ats-Tsauri, “Seandainya riwayat ini benar, maka hal ini menjadi bukti bahwa ungkapan sufi sudah dikenal jauh sebelum datangnya Islam”.   

Kedua, menurut Abu Qasim al-Qusyairi (w. 465 H), Ibnu Khaldun (w. 806 H) dan as-Sahrawardi (w. 330 H), istilah sufi dan tasawuf baru dikenal pada akhir abad kedua Hijriah. Abu Qasim al-Qusyairi mengatakan, para tokoh panutan kaum muslimin di zaman Rasulullah hanya diberikan gelar “ash-Shahabat”. Tidak ada gelar yang lebih tinggi dari gelar ini karena gelar “ash-Shahabat” bermakna para pendamping dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Kemudian, para panutan umat Islam pada generasi setelahnya diberikan gelar “at-tabi’in”. Umat Islam kala itu memandang gelar “at-tabi’in” (para pengikut) sebagai gelar yang sangat agung. Disusul kemudian, pada generasi selanjutnya muncullah gelar “tabi’ut tabi’in” (para pengikut tabi’in)”. Pada era selanjutnya, gelar yang disematkan lebih bermacam-macam seperti gelar “az-zahid” (sang ahli zuhud) dan gelar “al-‘ubbad” (sang ahli ibadah). Bahkan, banyak kalangan sekte sesat dalam Islam yang juga menjuluki pemimpin mereka dengan gelar “az-zahid” (sang ahli zuhud). Menyikapi hal ini, para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah memberikan gelar khusus kepada jalan orang-orang yang menjaga dirinya bersama Allah, menjaga hati mereka dari lupa kepada Allah dengan julukan “at-tasawwuf”. Julukan baru ini populer di kalangan pembesar Ahlussunnah wal Jama’ah pada akhir abad kedua hijriah. (Lihat Abu Qasim al-Qusyairi, ar-Risalah al-Qusyairiyyah, Beirut: Dar al-Jiil, 2005, hal. 389).

Ibnu Khaldun berpendapat, “Ilmu ini (tasawuf) adalah ilmu syariat yang baru dikenal dalam beragama. Pada dasarnya tasawuf bersumber dari ajaran para salaf dan pembesar dari kalangan para shahabat dan tabi’in yang menyusuri jalan kebenaran dan petunjuk Allah. Dasar ajaran tasawuf adalah menetapi ibadah dan berserah diri kepada Allah, menghindari gemerlapnya nafsu duniawi, menjaga diri dari terlena akan kenikmatan duniawi, harta dan pangkat derajat, serta menyepi dari makhluk demi meraih kenikmatan beribadah kepada Allah. Ajaran ini sudah sangat umum dijalankan oleh para shahabat dan para salaf. Pada akhir abad kedua Hijriah, ketika umat Islam telah terlena dalam masalah duniawi dan sibuk dengannya maka lahirlah gelar sufi dan tasawuf bagi orang-orang yang menetapi beribadah kepada Allah”. (Lihat Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, Kairo: Maktabah Taufiqiyyah, 2009, hal. 517).   

Ketiga, menurut sebagian kalangan ulama istilah tasawuf baru dikenal setelah abad ketiga hijriah. Akan tetapi pendapat ini sangat lemah bila dibandingkan dengan argumentasi dua pendapat sebelumnya. Pendapat ini diutarakan oleh kalangan yang tidak terlalu menyukai ajaran tasawuf seperti Ibnu Taimiyyah dan sesamanya. (Lihat Ibnu Taimiyyah, Risalah as-Shufiyyah wal Fuqara’, Kairo: Dar al-Hadits, 1999, hal. 9).   

Walhasil, ajaran sufi dan tasawuf adalah ajaran untuk mengikuti jejak para ulama salaf yang bersumber dari ajaran para shahabat dan tabi’in. Menurut sejarah, ada lima pendapat paling masyhur mengenai asal kata “sufi” dan “tasawuf” yaitu:   

Pertama, kata sufi dan tasawuf berasal dari kata “suuf” yang bermakna pakaian dari bulu domba. Para pengikut jalan sufi awalnya dikenal dengan pakai mereka yang terbuat dari bulu domba. Pakaian bulu domba ini menunjukkan gaya hidup para sufi yang sangat sederhana dan bersahaja. Ajaran mereka pun akhirnya dikenal dengan istilah tasawuf yang bermakna orang-orang yang memakai pakaian bulu domba.   

Kedua, kata sufi dan tasawuf berasal dari penisbatan gelar “ahlu suffah”. Hal ini dikarenakan para sufi awalnya dikenal sebagai golongan orang-orang yang memilih hidup sederhana dan fokus beribadah kepada Allah. Sehingga, gaya hidup mereka sering disamakan dengan para shahabat Nabi yang menetap di sekitar Masjid Nabawi yang juga dikenal dengan gelar “ahlu suffah”. Dari sinilah julukan sufi dan tasawuf berasal.   

Ketiga, kata sufi dan tasawuf berasal dari kata “ash-shafa” yang bermakna bersih. Ungkapan ini konon berdasarkan ucapan Bisyr bin Harits, “Seorang sufi adalah ia yang hatinya bersih karena Allah.” Sebagian ulama sufi juga mengatakan ,“Seorang sufi adalah ia yang bersih perangainya karena Allah hingga menjadi terpujilah martabat mereka.”   

Keempat, kata sufi dan tasawuf berasal dari penisbatan kepada seorang tokoh bernama al-Ghauts bin Murr yang dijuluki “suufah”. Konon, al-Ghauts bin Murr yang hidup sebelum masa Islam adalah seorang yang ahli beribadah kepada Allah dan selalu melayani kebutuhan para peziarah di Masjidil Haram. Kemudian, orang-orang pun menjuluki setiap orang yang ahli beribadah serta mengorbankan dirinya untuk melayani para peziarah di Masjidil Haram dengan sebutan “shufiyyah” merujuk pada julukan “suufah” yang dimiliki oleh al-Ghauts bin Murr. Baca Juga : Habib-luthfi-diurutan-ke-32-dari-500  

Kelima, kata sufi ddan tasawuf berasal dari bahasa Yunani “sophia” yang bermakna kebijaksanaan. Konon, kata sufi dan tasawuf memiliki makna yang sama dengan akar kata “filusuf” yang bermakna para pecinta kebijaksanaan. Pendapat ini diutarakan oleh al-Biruni, ia mengatakan, “Ada sebagian dari kalangan Yunani yang meyakini adanya wujud hakiki hanya untuk Tuhan, sedangkan selain Tuhan yang membutuhkan kepada proses penciptaan adalah tidak nyata. Dan ini adalah pendapat kaum “sophia” yang dikenal sebagai kalangan yang bijaksana. (Lihat Muhammad al-Biruni, Tahqiq al-Hind min Maqulah Maqbulah fi al-‘Aql aw Mardzulah, Kairo: Hai’ah al-‘Ammah lil Qushur ats-Tsaqafah, 2003, vol. 1, hal. 24).  



Bagaimana Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Komentar

POPULAR POST

LIMA HAL YANG MELEJITKAN ORANG BIASA MENJADI SUKSES

Setiap orang tentu ingin menjadi orang sukses.  Tapi kenapa keberhasilan tampak begitu mudah menghampiri orang lain dan tidak pada diri anda? Kenapa orang lain tampak begitu gampang mendapat apapun yang diinginkannya, sedang anda sekalipun merasa sudah berusaha SANGAT keras, bahkan mungkin jungkir balik ke sana kemari namun yang didapat hanya secuil. Apa benar itu karena takdir? Apa mungkin mereka lebih beruntung dari anda? Tentang orang-orang sukses, dari pengamatan saya, mereka memiliki beberapa kesamaan : 1. MENCINTAI YANG DI LAKUKAN. Orang-orang sukses biasanya berhasil di bidang yang dicintainya. Karena senang dengan yang dilakukannya, mereka akan menjalaninya dengan riang gembira.Tanpa ada paksaan. Lakukan apa yang anda cintai. Makin anda lakukan, makin bersemangat dan nikmat menjalaninya. 2. BERORIENTASI PADA TUJUAN. Orang-orang sukses selalu berorientasi padatujuan.  Tahu mengapa harus melakukan sesuatu. Dan memfokuskan usahanya untuk m...

CARA MENGHAPUS SHOWING POSTS WITH THE LABEL BAWAAN BLOGGER

Cara menghapus Showing posts with the label bawaan Blog cotempo, emporio, soho dan notable gimana ya…???supaya blog bisa keren gitu lo!, sebab blog SUARA HARIAN OTO BEMO BERODA TIGA sudah berumur 14 tahun, tapi tidak pernah seo, tak punya keyword yang baik dan tidak punya backling yang memadai, lagi pula tak terdeksi BERT cerdas. Cukup menderita sebagai blogger Tua tak pernah naik kelas, malah tambah puyeng palak gue mas bro !!! Tampilan contempo, soho, emporio dan notable adalah sangat mobile, dan hasil modifikasi desain menjadikannya sangat dinamis, tampak bersih. Tanya jawab khusus sebuah link komentar kepada Sofyan Ya-an Februari 25, 2021 website editblogtema.com.   Masuk ke pengaturan blog>Tema>Edit HTML: Cari kode:   <div class='post-filter-message'>   akan muncul kode lengkapnya sbb:   <div class='post-filter-message'> <div> <b:if cond='data:view.isArchive'> <data:view.archive.rangeMessage/> <b:elseif...

ABDULLAH AL MUBARAK : ANTARA CINTA ASMARA DAN CINTA ALLAH

Abdullah Al-Mubarak : Antara Cinta Asmara dan Cinta Allah Sejak muda ia sudah bertobat dan mendapat pencerahan cahaya Ilahiah. Wali yang doanya makbul ini juga dikenal sebagai ahli hadits dan hartawan yang dermawan. Suatu hari, anak muda itu tergila-gila kepada seorang gadis. Iapun terus menerus dirundung gundah gulana yang sangat dalam. Ia memuja dan mendambakan kekasih hatinya. Setiap detik selalu teringat si jantung hati. Suatu malam, di musim dingin, ia berdiri di bawah jendela kamar sang kekasih, menunggu sang pujaan. Ia rela berlama-lama di situ sekedar untuk menatapnya walau hanya sekejap. Butiran-butiran salju yang membasahi bajunya tak membuatnya gentar, ia tetap saja termangu sepanjang malam, menunggu si pujaan hati menampakkan parasnya. Sesaat terdengar alunan azan yang memecah keheningan hari yang beranjak menjadi malam. Dingin dan senyap. Tapi justru saat itulah cintanya melampaui ruang dan waktu. Mengalahkan dinginnya malam. Tak terasa ia sudah berjam-jam te...

ABU NAWAS KUAH DIBALAS MAKJUN

Abu Nawas, Kuah Dibalas Makjun Di mata Khalifah Harun al-Rasyid figur Abu Nawas memang lihai, dia tidak hanya lucu tetapi juga bijaksana sehingga tidak dapat dipandang enteng. Di satu pihak hal itu sangat membanggakan khalifah, tetapi di lain pihak, sangat menjengkelkannya, karena ia suka kurang ajar dan tidak tahu diri. Oleh karena itu baginda tidak pernah berhenti memeras otak untuk dapat membalas Abu Nawas. Pada suatu hari di bulan Rabiulawal, baginda khalifah tersenyum simpul sendiri sambil bergumam, “Awas kau, Abu Nawas, kali ini pasti kena.” Seperti biasa setiap bulan Rabiulawal, Sultan Harun Al-Rasyid menyelenggarakan acara Maulid Nabi di istana. Pada saat itu semua pembesar negeri hadir termasuk putra-putra mahkota dari negeri-negeri sekitarnya, tapi Abu Nawas tidak tampak. “Panggil dia kemari,” perintah khalifah kepada punggawa. Setelah Abu Nawas datang menghadap, dimulailah acara hari itu. Semua hadirin dipersilahkan berdiri, kemudian masing-masing disirami...

MENGELOLA CASH FLOW BISNIS BARU DENGAN BENAR

Mengelola Cash Flow Bisnis Baru Dengan Benar Agar bisnis yang Anda kelola nantinya bisa menghasilkan laba atau keuntungan yang besar serta dapat meningkatkan laba tersebut secara terus menerus, Anda harus bisa mengatur cash flow seoptimal mungkin. Terdapat beberapa cara yang dapat Anda terapkan untuk mengelola cash flow dalam bisnis yang Anda kelola. Simak ulasan lengkapnya berikut ini. Memulai bisnis baru memanglah tidak mudah untuk dilakukan. Apalagi jika Anda memulainya sendiri tanpa mengetahui apa saja yang harus dilakukan. Namun Anda tidak perlu khawatir. Di zaman yang semakin modern saat ini, melalui internet Anda bisa mencari tahu informasi sebanyak mungkin mengenai bagaimana cara memulai bisnis yang baik dan menguntungkan. Di samping itu, ada beberapa hal penting yang perlu Anda perhatikan jika Anda sudah mulai menjalankan bisnis yang Anda miliki sekarang, salah satunya yaitu bagaimana cara mengelola cash flow secara baik dan benar. Minimalkan Stok Stok dapat d...